Pasar Uang Soroti Kondisi Ringgit

Tiga krisis Malaysia mendapat sorotan, setelah kasus dugaan korupsi mencuat.

Setyo Budiantoro, Direktur Perkumpulan Prakarsa, mengatakan idugaan korupsi yang diduga dilakukan Perdana Menteri Najib Razak sehingga mengakibatkan masyarakat Malaysia kehilangan kepercayaan.

Menurutnya, masalah tersebut mengakibatkan menurunnya nilai ringgit.

"Krisis ini mencemaskan Indonesia, ringgit yang ambrol bisa menyeret rupiah," kata Budi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Hal serupa, dia menuturkan ketika krisis 1997, yakni saat mata uang Thailand, bath, jatuh nilainya sehingga mengakibatkan krisis di Asia. Indonesia pun, papar Budi, terkena dampaknya.

Oleh karena itu, dia mengatakan, BI dan pemerintah perlu meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia jauh dari krisis. Prakarsa juga meminta pemerintah mengambil tindakan untuk mengantisipasi krisis.

Dari Bloomberg, hari ini pk. 13:59 WIB, ringgit Malaysia melemah 1,23% menjadi 4,22/US$

Sumber : Bisnis.com

Pendapatan Sektor Wisata Global Lampaui Nilai Ekspor Minyak Mentah

 

Pendapatan Sektor Wisata Global Lampaui Nilai Ekspor Minyak Mentah

JAKARTA—Nilai bisnis sektor pariwisata dunia saat ini sudah menyamai, bahkan melampaui nilai ekspor minyak mentah, produk makanan maupun sektor otomotif.

Pada saat yang sama dunia pariwisata juga telah menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan internasional. Dunia pariwisata sekaligus menjadi salah satu pendapatan utama bagi kebanyakan negara berkembang dengan nilai 1,133 miliar dolar AS, sekaligus meraup 1,5 triliun dolar AS di sektor pendapatan ekspor.

Pertumbuhan bisnis di sektor tersebut melejit seiring dengan meningkatnya diversifikasi usaha dan persaingan di antara daerah tujuan wisata sebagaimana dikutip dari situs unwto.org, Selasa (1/9/2015).

Akibatnya, penyebaran industri itu secara global, baik di negara maju maupun negara berkembang, telah terjadi pertumbuhan perekonomian dan jumlah tenaga kerja. Sektor konstruksi, misalnya, menikmati sekali atas kemajuan pariwisata selain bidang pertanian dan telekomunikasi.

Tidak heran kalau pertumbuhan kunjungan wisata masih akan mencapai antara 3% hingga 4% pada tahun ini meski ekonomi global agak lesu sebagaimana diprediksi Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO). 
Masih menurut situs itu, sektor pariwisata tidak saja tercatat sebagai pemberi kerja satu dari sebelas warga dunia, namun juga menjadi penyumbang 10% dari produk domestik bruto global. 
Sumber : Bisnis.com

Korban Baru Harga Minyak

Kanada Jatuh ke Jurang Resesi Kanada menjadi korban baru dari anjloknya harga minyak dunia. Negara ini jatuh ke jurang resesi ekonomi untuk pertama kalinya dalam 6 tahun terakhir. Selama ini, Kanada merupakan eksportir minyak besar di dunia. Harga minyak yang turun hingga 50% sejak pertengahan 2015, sekarang di bawah US$ 50 per barel, menjadi bencana bagi perekonomian negara ini.

Data resmi badan statistik Kanada yang dilansir dari CNN, Rabu (2/9/2015) menyebutkan, ekonomi Kanada di kuartal II-2015 turun 0,5%. Sebelumnya di kuartal I-2015, ekonomi negara ini turun 0,8%. Secara teknis, negara yang ekonominya minus dalam dua kuartal berturut-turut berarti dalam kondisi resesi ekonomi. Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang drastis, akibat lesunya perekonomian dunia, dan membuat permintaan menurun.
Sementara pasokan minyak terus bertambah. Situasi ini membuat pendapatan Kanada dari ekspor minyak turun drastis. Belum lagi, sejumlah perusahaan energi terpaksa memangkas jumlah pekerjanya, karena kegiatan pengeboran harus dikurangi akibat turunnya harga minyak. Tak hanya soal minyak, kondisi sektor properti di Kanada juga sudah 'kepanasan' karena harga yang tinggi.

Kredit sektor perumahan sudah terlalu tinggi. Bank sentral negara ini sudah menurunkan suku bunga acuannya dua kali untuk mendorong perekonomian. Kejatuhan ekonomi Kanada ini menjadi ancaman bagi banyak perusahaan di Amerika Serikat (AS), yang menjadi negara tetangganya. Karena Kanada merupakan pasar ekspor terbesar AS, besarannya 20% dari total ekspor AS.