The Fed Batal Naik, Investor Profit Taking

Bisnis.com, JAKARTA-- Minimnya sentimen positif dari dalam negeri dan ketidakpastian gejolak ekonomi di global setelah The Fed memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga, membuat investor melakukan profit taking pada akhir pekan ini.

Kemarin, Jumat (18/9/2015), indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak cukup bergairah hingga awal sesi 2, namun ditutup naik tipis +1.93 poin sebesar +0.04% dilevel 4380.32. Pelemahan sektor aneka industri menjadi penekan IHSG pada akhir sesi.
 
Analis Reliance Securites Lanjar Nafi mengatakan, secara teknikal IHSG kembali terkonsolidasi pada formasi wedges chart pattern dan tidak mampu break out resistance MA25.

Read more ...

Sepekan Investasi: Rupiah terus tak berdaya

 
Sepekan Investasi: Rupiah terus tak berdaya
 

Rupiah sepanjang pekan ini terus melemah. Rupiah  dibuka di level Rp 14.333 per dollar AS, angka ini tidak jauh berbeda dengan penutupan rupiah hari Jumat (11/9) pekan lalu yang Rp 14.322.  Datarnya posisi rupiah di awal pekan ini, menurut analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong,  karena peluang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Fed masih menjadi perdebatan, apakah akan dinaikkan bulan ini atau ditunda kembali hingga Desember. Minimnya kepastian itu membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi "wait and see" sehingga laju rupiah mendatar.

Dimulai di hari Senin rupiah terus lunglai hingga menyentuh level Rp 14.459 per dollar AS. Namun, di hari Jumat rupiah berhasil menguat ke  level Rp 14.374. Dengan demikian di pasar spot rupiah melemah 0,36% dalam sepekan. Analis menduga, pelemahan ini masih akan terus berlanjut hingga pekan mendatang dengan minimnya data ekonomi domestik.

Read more ...

Pelemahan Rupiah Momentum Konsolidasi Bisnis

20150212000711769

JAKARTA-Penurunan nilai tukar rupiah yang mencapai kisaran Rp14.300 per dolar AS harus dijadikan sebagai momentum untuk kosolidasi bisnis agar semakin efisien dan memiliki daya saing menghadapi persaingan pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai tahun 2016.

"Pemerintah harus realistis. Masyarakat dan pelaku usaha juga harus mempersiapkan mental-psikologinya untuk menerima fakta bahwa rupiah bisa saja menembus kisaran Rp15.000 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan," kata Ketua Bidang Pembinaan UKM dan Koperasi DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Ismed Hasan Putro, kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Menurut Ismed, kondisi yang terjadi saat ini sejatinya adalah bagian dari pembelajaran dari pengalaman dua kali krisis sebelumnya, di mana tidak membuat masyarakat terlalu panik.

Meski begitu diutarakannya, dalam mengantisipasi tekanan nilai tukar dolar AS yang semakin kuat, Pemerintah harus menyiasati daya tahan ekonomi nasional dan daya saing bisnis dengan; menurunkan tingkat suku bunga, menurunkan harga BBM.

Selanjutnya menghilangkan rente dan ekonomi biaya tinggi yang berpotensi menjadi pelemah daya kompetisi bisnis, menunda kenaikan tarif listrik, dan menghapus perizinan yang menjadi peluang enggannya pelaku bisnis dan investor untuk berinvestasi.

Bagi pelaku usaha baru UKM dan Koperasi, tambah mantan Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero ini, Pemerintah perlu memberikan insentif khusus.

"Terbukti pada krisis 1998 dan 2008 pelaku usaha dari UKM dan Koperasi dapat menjadi penyangga dalam menjaga pertumbuhan bisnis dan perekonomian nasional," tegasnya.

Selain itu, tentu saja Pemerintah harus bisa menciptakan tata kelola pemerintahan yang semakin solid, ramah pada pelaku usaha dan investor, serta memangkas regulasi yang selama ini menjadi ladang perburuan rente.(ant/hrb)

Sumber : INVESTOR DAILY